Oleh: dasmanjohan | November 4, 2010

Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

A. Pengertian dan Tujuan Pendidikan Kejuruan
Terdapat banyak ragam pengertian tentang pendidikan kejuruan dalam pembicaraan sehari-nari. Menurut Undang-Undang Pendidikan Nasional (UUSPN) no. 20 tahun 2003 ”pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu dan siap pula melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.  Berikut adalah di antara pengertian dan tujuan pendidikan kejuruan dari berbagai sumber dan pakar pendidikan.

  • Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. PP 29 tahun 1990 Pasal 1 ayat 3
  • Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang diarahkan untuk mempelajari bidang khusus, agar para lulusan memiliki keahlian tertentu seperti bisnis, pabrikasi, pertanian, kerumahtanggaan, otomotif telekomunikasi, listrik, bangunan dan sebagainya (Snedden, 1917:8)
  • Pendidikan teknologi dan kejuruan adalah bagian dari pendidikan yang mencatak individu agar dia dapat bekerja pada kelompok tertentu (Evan, 1978).
  • Pendidikan teknologi dan kejuruan adalah suatu program yang berada di bawah organisasi pendidikan tinggi yang diorganisasikan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja (Good, 1959).
  • United Congres 1976: Vocational education as organized educational program which are directly related to the preparation of individuals for paid and unpaid employment, or for additional preparation for a career requiry other than a baccalaureate of advance degree.

Dari berbagai definisii di atas dapat kita kemukakan bahwa pendidikan teknologi dan kejuruan adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi para siswa yang merencanakan dan mengembangkan karirnya pada bidang keahlian tertentu untuk bekerja secara produktif  dan professional dan juga siap melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

B. Fungsi Pendidikan Kejuruan

Pendidikan kejuruan berfungsi menyiapkan siswa menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang mampu meningkatkan kualitas hidup, mampu mengembangkan dirinya, dan memiliki keahlian dan keberanian membuka peluang meningkatkan penghasilan. Sebagai suatu pendididikan khusus, pendididkan kejuruan direncanakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja, sebagai tenaga kerja produktif yang mampu menciptakan produk unggul yang dapat bersaing di pasar global dan professional yang memiliki kualitas moral di bidang kejuruannya (keahliannnya). Di samping itu pendidikan kejuruan juga berfungsi mempersiapkan siswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Fungsi pendidikan kejuruan menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja produktif antara lain meliputi:

  • Memenuhi keperluan tenaga kerja dunia usaha dan industri.
  • Menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan bagi orang lain.
  • Merubah status siswa dari ketergantungan menjadi bangsa yang berpenghasilan (produktif).

Sedangkan sebagai tenaga kerja professional siswa mampu mengerjakan tugasnya secara cepat, tepat dan effisien yang didasarkan pada unsur-unsur berikut:

  • ilmu atau teori yang sistematis,
  • kewenangan professional yang diakui oleh klien,
  • sanksi dan pengakuan masyarakat akan keabsahan kewenangannya dan
  • kode etik yang regulative.

Selanjutnya, menyiapkan siswa menguasai IPTEK dimaksudkan agar siswa:

  • Mampu mengikuti, menguasai, dan menyesuaikan diri dengan kemajuan IPTEK.
  • Memiliki kemampuan dasar untuk dapat mengembangkan diri secara berkelanjutan.

C. Filsafat Pendidikan Kejuruan

Filsafat adalah apa yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup dan landasan berpikir yang diianggap benar dan baik. Filsafat menurut Jalius Jama: 2010 ( dalam Dialog Seminar Filsafat Pendidikan) meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Usaha secara spekulatif untuk menyajikan pandangan yang sistematis dan lengkap tentang kenyataan.
  • Usaha mendeskripsikan sifat dasar yang terdalam dan sesungguhnya dari kenyataan.
  • Usaha untuk menentukan batas-batas dan lingkup pengetahuan.
  • Penyelidikan secara kritis terhadap hipotesis.
  • Ilmu untuk membantu seseorang untuk memaknai (purposeful meaning) apa yang dikatakan dan apa yang dilihat dan apa yang dilakukan.

Dalam pendidikan kejuruan ada dua aliran filsafat yang sesuai dengan keberadaanya, yaitu eksistensialisme dan esensialisme. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral.

Menurut Teori Prosser (dalam presentasi oleh Bachtiar Hasan: 2010 berjudul Pendidikan Kejuruan di Indonesia), landasan filsafat pendidikan kejuruan dapat diringkas sebagai berikut:

  • Sekolah kejuruan akan efektif jika siswa diajar dengan materi, alat, mesin dan tugas-tugas yang sama atau tiruan dimana siswa akan bekerja.
  • Sekolah kejuruan akan efektif hanya jika siswanya diperkenalkan dengan situasi nyata untuk berfikir, berperasaan, berperilaku seperti halnya pekerja, di industri, dimana siswa akan bekerja setelah lulus.
  • Sekolah kejuruan akan efektif jika siswa dilatih langsung untuk berfikir dan secara teratur.
  • Untuk setiap jenis pekerjaan, individu harus memiliki kemampuan minimum agar mereka bisa mempertahankan diri untuk bekerja dalam posisi tersebut.
  • Pendidikan kejuruan akan efektif jika membantu individu untuk mencapai cita-cita, kemampuan, dan keinginannya pada tingkat yang lebih tinggi.
  • Pendidikan kejuruan untuk suatu jenis keahlian, posisi dan keterampilan akan efektif hanya diberikan kepada siswa yang merasa memerlukan, menginginkan dan mendapatkan keuntungan dari padanya.
  • Pendidikan kejuruan akan efektif apabila pengalaman latihan yang dilakukan akan membentuk kebiasaan bekerja dan berfikir secara teratur dan betul-betul diperlukan untuk meningkatkan prestasi kerja.
  • Pendidikan kejuruan akan efektif jika diajar oleh guru dan instruktur yang telah memiliki pengalaman dan berhasil di dalam menerapkan keterampilan dan pengetahuan mengenai operasi dan proses kerja yang dilakukan.
  • Pendidikan kejuruan harus memahami posisinya dalam masyarakat, dan situasi pasar, melatih siswa untuk dapat memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja dan dengan menciptakan kondisi kerja yang lebih baik.
  • Menumbuhkan kebiasaan kerja yang efektif kepada siswa hanya akan terjadi apabila training yang diberikan berupa pekerjaan nyata, dan bukan merupakan latihan semata.
  • Materi training yang khusus pada jenis pekerjaan tertentu hendaknya merupakan pengalaman tuntas pada pekerjaan tersebut.
  • Untuk setiap jenis pekerjaan mempunyai ciri khusus, sehingga memerlukan materi diklat khusus pula.
  • Pendidikan kejuruan akan menghasilkan pelayanan yang efisien apabila penyelenggaraan training diberikan kepada sekelompok siswa yang memerlukan (motivasi) dan memperoleh keberhasilan dari program tersebut.
  • Pendidikan kejuruan akan efisien dan efektif apabila metode pembelajaran memperhatikan karakteristik siswa.
  • Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien apabila dilaksanakan dengan fleksibel, dinamis dan terstandar.
  • Walaupun setiap usaha perlu dilaksanakan sehemat mungkin, pembiayaan pendidikan yang kurang dari batas minimum tidak bisa dilaksanakan secara efisien. Dan jika pembelajaran tidak bisa menjangkau dengan biaya minimum, sebaiknya pendidikan kejuruan tidak dilaksanakan (Prosser dan Allen 1825).

Miller: 1986 memberikan 10 prinsip pendidikan kejuruan dikaitkan dengan masyarakat (people) sebagai berikut:

  1. 1. Bimbingan

Bimbingan merupakan unsur yang penting dalam pendidikan kejuruan. Lembaga pendidikan dan kejuruan diharapkan bisa memberikan bimbangan dan tuntunan kepada masyarakat sekitar dalam memecahkan maslah hidup dan kehidupannya.

  1. 2. Belajar seumur hidup

Prinsip belajar seumur hidup atau terus menerus dapat diterapkan pada pendidikan kejuruan karena pendiidikan kejuruan harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau tidak demikian, maka pendidikan kejuruan akan menjadi using dan ketinggalan zaman.

  1. 3. Memenuhi kebutuhan masyarakat

Pendidikan kejuruan harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik secara individu, masyarakat maupun nasional.

  1. 4. Pendidikan kejuruan terbuka bagi semua

Pendidikan kejuruan terbuka bagi semua lapisan masayarakat tanpa terkecuali, tanpa membedakan yang kaya dan yang miskin, pria dan wanita. Hal ini senada dengan Prosser, Snedden, Dewey, Gompers, dan lain-lain mengatakan: “….Pendidikan Kejuruan sangat potensial untuk menjadikan pendidikan masyarakat lebih demokrasi”.

Pendidikan kejuruan member kebebasan individu/ masyarakat untuk memilih jenis pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Dan dikatakan pula  “….vocational education is intended to serve people off all ages”.

  1. 5. Penempatan

Bukan hanya melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, pendidikan kejuruan juga bertanggung jawab untuk dalam penempatan lulusannya untuk menduduki berbagai bidang pekerjaan dalam kehidupannya sesuai dengan kompetensinya. Pernyataan ini juga sesuai dengan asumsi Miller sebagai berikut: “Pendidikan kejuruan secara umum kurang lebih merupakan format penawaran bimbingan lapangan kerja dan tindakan penempatan tenaga kerja untuk lulusan mereka”.

  1. 6. Perbedaan peran jenis kelamin

Pendidikan kejuruan dapat berperan menghilangkan anggapan salah sebagian masyarakat bahwa pendidikan kejuruan hanya untuk kaum pria saja. Sesuai dengan prinsip sebelumnya bahwa pendidikan kejuruan tidak membedakan antara pria dan wanita. Sebab dalam kenyataan sehari-hari dalam dunia industri dapat kita lihat bahwa ada jenis-jenis pekerjaan tertentu yang cocok buat pria dan ada pula yang sesuai buat wanita asal memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai. Pekerjaan-pekerjaan tertentu yang memerlukan ketelitian, kecermatan, kesabaran dan kehalusan yang tinggi malah lebih cocok diisi oleh tenaga kerja wanita yang berasal dari pendidikan kejuruan.

  1. Individu dengan kebutuhan khusus dilayani melalui pendidikan kejuruan

Sebagian individu/ masyarakat memiliki kebutuhan khusus yang berbeda dengan yang lain. Hal ini dapat dilayani melalui pendidikan kejuruan.

  1. 8. Organisasi siswa adalah suatu corak pendidikan kejuruan integral

Melalui pendidikan kejuruan dapat dibentuk organisasi siswa secara integral. Dalam pendidikan kejuruan dapat dibedakan antara lain: pendidikan/ sekolah teknik, pertanian, bisnis/ ekonomi, kedokteran, kehutanan, industry dan sebagainya. Sehingga bermacam jenis pendidikan tersebut tidak lain adalah pendidikan kejuruan itu sendiri.

  1. 9. Guru pendiidikan kejuruan merupakan guru pendidikan profesi dan jabatan

Guru merupakan komponen Utama dan penting dalam pendidikan kejuruan. Oleh sebab itu guru harus memiliki kompetensi khusus dalam bidang yang diajarkannya (kompetensi akademik) dan mengetahui bagaimana cara mengajar (kompetensi pedagogik). Di samaping itu, guru harus pula memiliki kompetensi social yang baik.

10. Etos kerja (work ethic) dipromosikan melalui pendidikan kejuruan

Etos kerja dapat diartikan sebagai kebiasaan kerja, kecendrungan modal kerja atau pandangan hidup kerja. Contohnya dalam Islam dinyatakan bahwa pekerjaan itu adalah ibdah. Ini merupakan suatu contoh etos kerja. Sehingga diharapkan semakin tinggi etos kerja seseorang, semakin tinggi prestasi kerjanya.

Melalui pendidikan kejuruan siswa dilatih untuk meningkatkan etos kerjanya, prestasi kerjanya dan pada gilirannya dapat mencapai produktivitas yang tinggi. Oleh sebab itu, dalam pendidikan kejuruan silswa bukan saja dilatih meningkatkan skillnya, tetapi juga efktivitas dan pengetahuannya.

Dalam kaitannya dengan prinsip pengajaran pendidikan kejuruan, Miller: 86 juga memberikan 8 prinsip sebagai berikut:

  1. Kesadaran akan karir adalah bagian penting dalam pendidikan kejuruan khususnya pada proses awal pendidikan itu sendiri.
  2. Pendidikan kejuruan merupakan pendikan yang menyeluruh dan merupakan bagian dari masyarakat (public system).
  3. Kurikulum dalam pendidikan kejuruan berdasarkan atas kebutuhan dunia kerja/ dunia industry.
  4. Jabatan atu pekerjaaan dalam kelompok/ keluarga sebagai salah satu pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan khususnya pada tingkat menengah.
  5. Inovasi merupakan bagian yang sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan.
  6. Seseorang dipersiapkan untuk dapat memasuki dunia kerja melalui pendidikan kejuruan.
  7. Keselamatan kerja merupakan unsure penting dalam pendidikan kejuruan.
  8. Pengawasan dalam peningkatan pengalaman okupasi/ pekerjaan dapat dilakukan melalui pendidikan kejuruan.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan proses program pendidikan kejuruan,

Miller: 86 juga memberikan 7 prinsip sebagai berikut:

  1. Pendidikan kejuruan selalu terbuka untuk diberikan saran, nasehat, kritik dan sebagainya mengenai program-programnya.
  2. Artikulasi dan koordinasi adalah salah satu titik sentral dlam pendidikan kejuruan.
  3. Evaluasi  merupakan proses yang terus menerus harus ada dalam penidikan kejuruan.
  4. Prinsip follow-up (tindak lanjut) merupakan pengembangan dalam pendidikan kejuruan.
  5. Adanya lembaga legislative dalam pendidikan kejuruan sangat dibutuhkan.
  6. Perencanaan menyeluruh sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan.
  7. Pendidikan yang dilakukan secara kontinyu (terus-menerus) memberikan fondasi yang kuat dalam pendidikan kejuruan.

D. Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Untuk memahami tentang pendidikan kejuruan, semestinyalah kita harus memahami karakteristik pendidikan kejuruan terlebih dulu. Meskipun pendidikan kejuruan tidak terpisahkan dari sistim pendidikan secara keseluruhan, namun sudah barang tentu mempunyai kekhususan atau karakteristik tertentu yang membedakannya dengan pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi juga tercermin dalam aspek-aspek lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu :

  1. 1. Orientasi pendidikan kejuruan

Sebagai suatu system pendidikan yang bertujuan mempersiapkan lulusannya memasuki lapangan kerja, maka orientasi pendidikan kejuruan haruslah tertuju kepada keberhasilan belajar berupa output atau lulusannya yang dapat dipasarkan di pasar tenaga kerja. Lebih jauh keberhasilan program pendidikan kejuruan secara tuntas berorientasi pada penampilan para lulusannya kelak di lapangan kerja.

  1. 2. Justifikasi untuk eksistensinya

Untuk mengembangan program pendidikan kejuruan perlu alasan atau jastifikasi khusus yang ini tidak begitu dirasakan oleh pendidikan umum. Justifikasi khusus adalah adanya kebutuhan nyata yang dirasakan tenaga kerja di lapangan kerja atu industri baik jasa maupun barang.

  1. 3. Fokus kurikulumnya

Pendidikan kejuruan bukan hanya menekankan pada aspek skill material saja, tetapi juga menekankan kepada aspek belajar yang lainnya. Rangsangan dan pengalaman belajar yang disajikan melalui pendidikan kejuruan mencakup rangsangan dan pengalaman belajar yang mengembangkan domain afektif, kognitif dan psikomotor berikut paduan integralnya yang siap untuk dipadukan baik pada situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar maupun nanti dalam situasi kerja yang sebenarnya. Ini termasuk sikap kerja dan orientasi nilai yang mendasari aspirasi, motivasi dan kemampuan kerjanya.

4.   Kriteria keberhasilannya

Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan 2 kriteria yaitu keberhasilan di sekolah (in school success) dan out of school succes. Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikuler yang sudah diorientasikan ke persyaratan dunia kerja, sedang kriteria yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya.

5.   Kepekaannya terhadap perkembangan masyarakat

Karena komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mempunya ciri lain berupa kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan dunia kerja. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pasang surutnya dunia suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi barang dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan perkembangan pendidikan kejuruan.

6.   Perbekalan logistiknya

Ditinjau dari segi peralatan belajar, maka untuk mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif diperlukan banyak perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik yang lain. Bengkel kerja dan laboratorium adalah kelengkapan umum yang menyertai eksistensi suatu sekolah kejuruan. Hal ini membuat membuat sekolah kejuruan membutuhkan biaya yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum.

7.   Hubungannya dengan masyarakat dunia usaha/ dunia industri.

Hubungan lebih jauh dengan masyarakat yang mencakup daya dukung dan daya serap lingkungan yang sangat penting perannya bagi hidup dan matinya suatu lembaga pendidikan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory commitee), kesediaan dunia usaha menampung anak didik sekolah kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman belajar di lapangan.

Dalam implementasinya, ketujuh karekteristik pendidikan kejuruan tersebut di atas, mempunyai implikasi dan konsekuensi yang luas terhadap proses perencanan kurikulum pendidikan kejuruan itu sendiri.

Daftar Pustaka

Johar, As’ari (2010), Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Disampaikan pada seminar terbatas Tim Penyusun Konsep Batang Tubuh Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia).

Jama, Jalius (2010), Dialog Seminar Filsafat Pendidikan : Program Pasca Sarjana Fakultas Teknik Uneversitas Negeri Padang.

Makhun, Johar (2010) diakses mealului website.

http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN/IPA/196803081993031JOHARMAKNUN/Pend-kejuruan.pdf pada 30/10/2010
Hasan, Bachtiar (2010) diakses melalui website.

http://file.upi.edu/Direktori/E-FPTK/JUR.PEND.TEKNIK ELEKTRO/195512041981031-BACHTIAR HASAN/PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA.pdf pada tanggal 30/10/2010

Kurniawan (2010) diakses melalui website www. Pendidikan network.com

http://re-searchengines.com/0208kurniawan.html pada tanggal 30/10/2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: